BERJIBAKU DENGAN POST POWER SYNDROME



Saat almarhum papa memasuki masa pensiun, saya lihat dia menjadi sosok yang mulai linglung, tidak percaya diri, dan super sensitive. Kalau saya cuek atau menjawab pertanyaan darinya sedikit agak nyeleneh emosinya jadi tidak stabil , kalau kata anak jaman sekarang gampang bapernya alias bawa perasaan. Setelah saya cari tahu oh ternyata memang sudah jadi rahasia umum, sesorang yang telah memasuki masa pension mengalami post power syndrome.


Post-power syndrome adalah gejala yang terjadi dimana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Seperti yang terjadi pada kebanyakan orang pada usia mendekati pensiun. Selalu ingin mengungkapkan betapa begitu bangga akan masa lalunya yang dilaluinya dengan jerih payah yang luar biasa.


Ternyata hal tersebut bisa terjadi sama siapa saja, bukan hanya orang-orang yang akan memasuki masa pensiun atau usia senja saja, tapi juga orang-orang dengan usia produktif seperti saya, lebih tepatnya seorang ibu yang beralih profesi menjadi full time mom. Ya saya mulai membaca diri saya yang akhir-akhir ini jadi merasa kurang percaya diri, sensitive, gampang marah, dan insecure sama sekitar apalagi suami. 

Ketika terbiasa sibuk dengan rutinitas kantoran, mobilitas yang tinggi, lalu  langkah saya harus terhenti karena situasi yang gamang hal inilah yang menyebabkan itu semua. Satu minggu full berada di rumah, mengasuh Arsyad, mengerjakan pekerjaan domestic rumah tangga memang menyenangkan awalnya, namun lama kelamaan rasa percaya diri menurun drastis, saya merasa tidak becus Karena tidak bisa lagi membantu suami untuk menopang perekonomian keluarga, insecure, emosi naik turun menghadapi tingkah polah Arsyad.

 Berbeda 180 derajat ketika kondisi saya masih aktif, sampai di rumah saya bisa all out bermain bersama Arsyad, emosi saya stabil walaupun di jalan berjibaku dengan kemacetan, karena apa?karena saya nyaman dan enjoy menjalaninya. Bukan..bukan karena saya tidak ingin mnejadi full time mom, tapi saya merasa diri saya jauh lebih baik ketika saya aktif di luar. Batin saya, kebahagiaan saya ada di bekerja. Bekerja buat saya bukan hanya membantu suami memenuhi pundi-pundi rupiah kebutuhan keluarga kami saja,buat saya bekerja menjadi me time saya, aktualisasi diri saya. Maka saya bisa lebih “waras” menghadapi segala tetek bengek dunia pengasuhan dan rumah tangga. 

Kalau  habis menulis ini saya dicap kurang beribadah atau kurang iman, silahkan saja. Tapi nyatanya saya tidak sendiri. Banyak diluar sana perempuan-perempuan yang merasakan hal yang sama seperti saya. Dengan bekerja lebih bahagia, anak lebih terurus, anak lebih terperhatikan. Nyatanya saya bisa tumbuh baik dari seorang ibu yang bekerja.

Mama yang mendidik saya untuk menjadi sosok perempuan mandiri, perempuan juga harus punya “power” bukan karena tidak mau tunduk pada suami tapi sebagai antisipasi masa depan karena umur seseorang tidak ada yang tahu. Saya mendapat gelar sarjana juga dari peluh keringat saya sendiri dengan kuliah sambil bekerja. Jadi seperti sudah mendarah daging bahwa dengan bekerja semua akan jauh lebih baik. Walapun pada kenyataanya saya memang menargetkan diri bahwa akan “berhenti” ketika Arsyad memasuki  sekolah dasar. Berhenti karena hati saya sudah siap tidak seperti sekarang.

“Berhenti” dengan syarat saya masih bisa aktif menulis dan nyampah di blog ini tentunya, karena disini “penyelamat” saya, passion saya, dan bonusnya dapat “sampingan” tawaran beberapa job yang bisa dipakai untuk keperluan Arsyad dan saya.

Back to Post power syndrome, saat mengutarakan apa yang saya rasakan ke grup GBUS,  ternyata memang perlu waktu beradaptasi dengan keadaan ini. Sayangnya saya tidak share apa yang saya rasakan ini ke suami, saya takut ia jadi tambah stress mikirin saya, jadi tambah bikin pusing dia. Karena beberapa waktu lalu saya baru cerita sedikit yang ada hanya tekanan dari suami untuk mencari pengganti kesibukan yang baru. Padahal waktu itu yang saya butuhkan hanya rasa empati saja dari dia, pelukan, ciuman, dan transferan *eeeeeh :p. Mungkin waktunya saat itu lagi gak tepat untuk bercerita, akhirnya saya cukup menyimpan rapat-rapat ini semua.

Support system ketika hal ini terjadi memang sangat dibutuhkan menurut saya, memang sih kunci utamanya ada pada diri saya sendiri yang mau menerima keadaan dan berdamai dengan keadaan. Mensyukuri setiap kejadian dan kasih sayang yang Allah berikan.

Saya nulis ini selain buat curhatan saya juga ingin membuka mata semuanya bahwa diluaran sana ada perempuan yang punya pengalaman yang mungkin serupa. Berjibaku dengan proses adaptasi yang sulit. 

Buat teman-teman yang ingin memutuskan resign dari pekerjaan coba pikir berulang kali, apakah memang sudah benar-benar siap baik secara mental ataupun financial? Saya mungkin akan berkata siap ketika memang benar-benar hal tersebut sudah saya siapkan, sayangnya ujian kali ini mendadak. Saya juga gak bias protes sama Allah kan? Yang ada malah kufur nikmat.

Ketika memutuskan untuk resign coba deh kenali potensi diri kita sendiri, passion kita apa untuk aktifitas di rumah. Kalau masak bisa share resep masakan di sosmed, kalau senang menulis bisa nge blog, kalau senang belanja bisa buka online shop atau jasa titip. Intinya sih masih aktif berkegiatan, itu yang saya harapkan sih.

Ngeblog, gabung di komunitas rangkul Keluarga Kita itu jadi salah satu “obat” saya agar bisa tetap aktif dan berperan di tengah masyarakat lewat apa yang saya bagikan dan kerjakan.

Untuk para suami, ketika istri mulai memutuskan untuk resign atau berhenti karena satu dan lain hal. Gandeng tangannya, rangkul dia, karena masa transisi ini begitu berat, emosi kadang naik turun, tumbuhkan kembali rasa percaya dirinya. 

Karena ibu yang bahagia akan menumbuhkan anak yang bahagia itu benar adanya.

*lanjut di postingan  selanjutnya yaaa..

terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!
9 comments on "BERJIBAKU DENGAN POST POWER SYNDROME"
  1. Memang jelas ibu bekerja itu lebih bahagia daripada ibu yg di rumah, karena ada apresiasi seperti gaji & kenaikan jabatan. Ada kebanggaan. Sedangkan ibu yg di rumah itu apresiasinya tidak terlihat nyata & butuh kesabaran tinggi karena kita tidak mendapatkan apa2 secara materi. Malah sering dituduh hanya mendompleng suami. Sementara yg kita kerjakan jauh lebih sulit & harus lebih ikhlas karena tanpa imbalan materi. Padahal ke depannya nanti akan kelihatan apresiasi itu datangnya dari anak-anak yg bahagia ibunya banyak hadir dalam kehidupannya. Tapi tetap saja ya ibunya juga harus bahagia. Kalau saya sama seperti mba Ayu, tetap melakoni hobi nulis & sekarang ngeblog. Sesekali ke luar rumah karena kita juga butuh bertemu orang-orang. Mengikuti pengajian supaya tetap bersyukur & ikhlas, karena bertemu dgn orang2 Soleh yg terus mengingatkan tujuan hidup kita di dunia. Dan sebenarnya tak ada kehidupan yang benar2 sempurna. Apa pun pilihan kita, pasti akan diuji dengan kesusahan. Termasuk menjadi ibu rumah tangga.

    ReplyDelete
  2. Aku samaaa kok mba ama kamu. Kyknya ga bakal bisa jd full time mom di rumah aja.. Duuh bisa stress gilak. Aku lbh milih deh bermacet2 di jalan, handling masalah2 di kantor drpd hrs ngurusin rumah dan segala macam hal lainnya itu.. Lah pas maternity aja aku minta liburku yg 3 bulan itu dipercepat, yg sayangnya ditolak ama HRD. Aku tipe pekerja kantoran, yg pasti bgt bakal ga kuat kalo hrs dipaksa stay di rumah.

    Dulu papa pas resign dr kantornya, jg ngalamin post power syndrome ini. Sempet marah2 aja di rumah. Akhirnya papa mikir, uang pensiunnya yg memang lumayan , dia putar jd bisnis bakery. Pdhl papa nol pengetahuan ttg bakery, lah wong sebelumnya kerja di perusahaan minyak. Tp mungkin krn memang dia suka hal2 baru, tantangan baru, bakaerynya malah sukses dan udh berkembang jd 6 cabang skr. Proud of him. Buatku pribadi sih, saat udh pensiun nantipun aku pgn ttp punya usaha.. Krn itu bisa mencegah pikun :) . Dan dgn punya penghasilan sendiri, jd ga ngerepotin anak dan sodara lain kan

    ReplyDelete
  3. Hai Mak. Salam kenal. Semoga so far so good yaa. Saya bisa membayangkan jika berada di posisimu.

    ReplyDelete
  4. terima kasih sharing nya mbak, saya juga lagi mikir antara ingin resign atau tidak, jika lihat anak rasanya ingin resign tapi tekad saya belum kokoh dan memikirkan apa yang akan saya lakukan jika hanya akan berada dirumah. terima kasih atas post ini, paling tidak saya harus memantapkan tekad dulu agar nantinya lebih stabil

    ReplyDelete
  5. Semangat kakk.. Aku masih banyak kebimbangan dengan keputusan resign/tidak. Soalnya dari kecil dulu kebiasaan selalu aktif di luar rumah. Takut kena post power syndrome juga.. Gimana dong ya ini.. :'(

    ReplyDelete
  6. Saya juga merasakan hal yg sama mba..sejak hamil saya resign dari pekerjaan sbg wartawan..awalnya seneng sih ngurus rumah dan suami lama bosen juga haha..akhirnya blog jadi pelarian hehe

    ReplyDelete
  7. Dulu sebelum nikah aku pengen banget jadi IRT kalau punya anak karena ngerasain jadi anak yg Ibunya bekerja itu kayak kurang perhatian heheheh.
    Tapi setelah nikah 6 bulan blm dikaruniai anak & udah mati gaya, secara waktu itu keadaan ekonomi jg masih biasa aja, jadi ya hidup ngontrak seadanya, dan aku ngga bisa kalau seharian cuman nonton gosip, buka sosmed dll :D
    Akhirnya minta ijin kerja lagi, suami ijinin & alhamdulillah dpt kerjaan.

    Sampe sekarang aku salut sama Ibu bekerja yg bisa memutuskan resign & jadi IRT karena pasti akan sulit & ngga mudah. Support system & dukungan suami pastinya penting banget ya... Semoga kedepannya bisa menemukan ritme & kegiatan yg pas & menikmati waktu jadi IRT mba :)

    ReplyDelete
  8. Mbak masih butuh pelukan gak? Hehehe.. Sini aku aja yang peluk sini, hihi.. Semangattt ya mbak, semua pasti berlalu (classic words, sorry). Tapi bener, cuma bisa sabar & berpikir semua pasti berlalu ini cukup membantu loh mbak. Semangattt lagi ah 💪🏻💪🏻💪🏻

    ReplyDelete
  9. Semangat terus ya mak Ayuuuu.. Aku baru tau tentang post power sindrome ini.. Dan ternyata bisa menimpa ibu bekerja yang resign dan memutuskan menjadi IRT yaaa.. Huhuhuu.. Walaupun terasa berat tapi aku yakin mak Ayu pasti bisa melewatinyaaa.. Semangat terus ya mak Ayuuuu :*

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature