PENGALAMAN OPERASI SIRKUMSISI KARENA FIMOSIS PADA ARSYAD


Sabtu, 28 januari yang lalu saat kami sedang menuju perjalanan ke rumah selepas menjemput eyang dari stasiun Gambir, Arsyad (2yo)  mengeluh sakit pada area penisnya.

A : ndaa atit nda
B : apa yang sakit sayang?
A : nis nda nis *sambil menunjuk ke arah penisnya.

Sontak saya kaget lalu memeriksa kondisi pospaknya ternyata masih kering padahal memang sudah jamnya untuk mengganti pospak, saya tanya sama kakak saya yang waktu itu juga sedang bersama saya dan kebetulan juga dia seorang perawat. Kakak saya bilang “wah ini penisnya bengkak, tuh pipisnya masih disini” sambil menunjuk kearah bawah perutnya Arsyad. Tanpa pikir panjang saya dan ayah Aik langsung memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit Hermina Bekasi.

Selama menunggu ditangani oleh dokter dan mengurus segala administrasinya, Arsyad akhirnya pipis namun yang saya perhatikan ia sedikit mengejan lalu mengeluh sakit. Kondisi IGD RSIA Hermina sabtu sore itu lumayan ramai dan memang kami harus bersabar menunggu antrian penanganan dari dokter.

Dokterpun datang dan saya mencoba menjelaskan keluhan yang dialami Arsyad yang area penisnya sakit dan memang yang saya lihat kondisinya agak bengkak. Lalu dokter menerangkan bahwa yang dialami Arsyad adalah fimosis. Jadi fimosis itu apa? Fimosis ini merupakan kondisi dimana kulup penis melekat pada kepala penis dan menutup lubang penis. Akibatnya jadi susah pipis. Penyebabnya umumnya karena bawaan lahir, namun saat lahir dokter yang menangani Arsyad tidak mengatakan hal apa-apa. Penyebab lainnya bisa karena peradangan yg disebabkan infeksi, trauma benturan. 

Arsyad di IGD
Lalu dokter menangani Arsyad. Membersihkan area penisnya dan ternyata smegmanya cukup banyak. Saya menerangkan kepada dokter rasanya saya sudah cukup bersih untuk membersihkan area genitalnya ketika mandi atau mengganti pospak tapi ternyata itu saja tidak cukup. Smegma itu zat berwarna putih yang terkadang menutupi kepala penis pada penis yang tidak disunat. Jika penis sering dibersihkan, smegma cenderung berwarna bening atau jernih namun saat kondisi smegma menumpuk umumnya bercampur dengan keringat yang diproduksi kulit sehingga warnanya putih.

Setelah itu Arsyad dipasang kateter agar pipisnya bisa keluar. Rasanya melihat anak meronta-ronta karena kesakitan luaaar biasa. Hati saya langsung merasa bersalah, seperti menyalahkan diri sendiri dan langsung melabeli diri ini sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak.

Dokter jaga IGD saat itu langsung mengkonsultasikan masalah yang dialami Arsyad oleh dokter spesialis bedah anak untuk melakukan tindakan apa yang tepat untuk Arsyad. Akhirnya kami diberitahu kalau sebaiknya Arsyad dirawat inap terlebih dahulu, lalu kami menjadwalkan untuk tindakan sirkumsisi atau sunat.

Pukul 10 malam akhirnya kami masuk ruang perawatan, Arsyad diinfus karena ada beberapa obat yang masuk lewat infusan dan urine Arsyad juga diperiksa untuk mengetahui apakah ada infeksi saluran kemih atau tidak. Semalaman saya tidak tidur memikirkan tindakan sirkumsisi yang akan dilalui Arsyad. Memang saya akui sih kekhawatiran saya agak berlebih karena tindakan bius total untuk sirkumsisi esok hari.

Obat anti nyeri diberikan melalui alat ini dan infusan

Malamnya Arsyad tidur lumayan nyenyak, sesekali mencari nenen. Suster menganjurkan agar saat jam 5 pagi saya stop memberikan ASI dan makanan apapun karena Arsyad harus berpuasa selama 6 jam. Rewelnya bukan main pagi harinya minta nenen, saya coba alihkan dengan bermain, lihat video, sampai pada pukul 10 suster datang dan membawa kami ke ruang operasi.

Sepanjang jalan saya hanya bisa menangis, suami mencoba menguatkan dan memberi sugesti yang positif bahwa semua akan baik-baik saja. Duuuh, saya kemarin emang lebay banget parnonya. Saat masuk ruang recovery di kamar operasi saya dan suami masih bisa menemani Arsyad, mengajaknya bercanda sebagai peralihan dari rasa sakit dan agar ia nyaman di ruangan. Jam 11 tiba ternyata dokter yang menangani Arsyad belum datang. Wooooh saya yang super tegang banget mencoba mengalihkan dengan berfoto-foto.


senyum kecut minta nenen



Dokter yang menangani operasi sirkumsisi Arsyad yaitu Dr. Kshetra Rinaldhy.SpB dan Dr.Betty yang menangani anastesi Arsyad (nama lengkapnya saya lupa). Selain itu ada 5 perawat juga. Alhamdulillah susternya baik-baik banget. Mereka mau ngajak Arsyad ngobrol, main, jadi anaknya gak terlalu tegang.

Jam 11.30 akhirnya dokter Kshetra datang, kami mengobrol sebentar lalu dokter pamit untuk mempersiapkan diri. Suster mengintruksikan saya untuk menggendong Arsyad dan masuk ke ruangan operasi. Sepanjang lorong saya menangis dan berusaha ikhlas karena apa yang kita punya di dunia ini sesungguhnya hanya “titipan” dari Allah. Saat saya merebahkan Arsyad di kamar operasi dia menangis sambil ngamuk-ngamuk dan teriak-teriak panggil “ndaa bundaa” saat itu juga dokter memasukan obat bius langsung Arsyad tertidur dan saya dipersilahkan keluar untuk menunggu di ruang recovery atau ruang tunggu keluarga.
 
pembicaraan laki-laki tentang asetnya :p


Proses operasi sirkumsisi alhamdulillah berjalan lancar, selang 45 menit saya dipanggil suster dan saya melihat salah satu suster sedang menggendong Arsyad yang sudah sadar. Hal pertama begitu melihat Arsyad setelah disirkumsisi saya ngilu, karena penisnya tidak dibungkus, lukanya dibiarkan terbuka oleh dokter, kata dokter kalau mau pakai pospak sudah boleh bunda. Tapi lagi-lagi saya menolak dan dokter menyarankan membeli celana sunat sebagai alternatif lainnya atau memasang kasa sebagai hordeng perlindungan. :p

Setelah saya gendong Arsyad lalu minta nenen dan sambil saya menyusui dokter Khsetra menjelaskan perawatan pasca sunat seperti apa. Saya hanya diresepi salep yang harus dioles setiap 2x sehari dan benar-benar membersihkan area penis secara bersih tidak ada sisa salep yang menempel.

Alhamdulillah selang 1 jam kami bisa berkumpul kembali di ruang perawatan. Ohya sebenarnya sore harinya kami sudah diijinkan pulang sama dokter tapi kan udah kena charge hari berikutnya untuk kamar rawat inapnya, sebagai keluarga yang ogah rugi jadi kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. :p

Pas di kamar rawat inap, Arsyad sudah kembali ceria walau sesekali mengeluh perih tapi tenang ada obatnya yaitu nenen! Gak kebayang sih kalau dia sudah saya sapih nanti gimana.  Hari seninnya kami pulang. Biaya yang kami keluarkan kemarin untuk operasi sirkumsisi beserta kamar rawat inap, jasa dokter, pemakaian kamar operasi sebesar Rp 7.500.000 dan alhamdulillah dicover oleh asuransi kantor pak suami karena fimosis ini di atas 1 tahun, kalau dibawah 1 tahun masuknya ke penyakit bawaan lahir jadi tidak dicover deh. Untuk yang mau menggunakan BPJS juga bisa sih hanya saja harus mengikuti sesuai alur prosedur dari faskes 1 agar dicover oleh BPJS.

Arsyad pakai celana sunat

Memang sih tindakan sunat atau sirkumsisi ini bukan jalan satu-satunya mengobati fimosis. Pasca Arsyad disirkumsisi banyak teman-teman saya yang japri mempertanyakan kenapa gak diobservasi dulu dan lainnya. Yang saya pikirkan adalah semakin saya menunda tindakan sirkumsisi ini semakin membuat Arsyad sulit pipis yang nantinya akan menimbulkan penyakit lain seperti infeksi saluran kemih. Menurut saya semakin cepat ditangani akan semakin baik.

Dua hari pasca sirkumsisi anaknya sudah aktif lari-lari dan main bola. Alhamdulillah juga seminggu pasca sirkumsisi lukanya sudah mengering dan kemarin kontrol kata dokter Khsetra hasilnya sudah bagus tinggal terus diolesi salep yang diresepkan kemarin. 2 hari pasca sirkumsisi Arsyad juga udah aktif banget lari-lari kesana kemari.

Ada yang punya pengalaman yang sama?

terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!
8 comments on " PENGALAMAN OPERASI SIRKUMSISI KARENA FIMOSIS PADA ARSYAD"
  1. Wah baru tau kalo sirkumsisi itu sama dengan sunat. Ngeri juga ya ternyata kalo ga bersih. Warning buat aku nih yang punya anak laki-laki juga. Thanks for sharing ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaa, kulupnya harus benar-benar bersih

      Delete
  2. mbak aku ngikutin di IGmu aja sedih dan ngilu mbayanginnya. Skr malah baca cerita detilnya. Sehat terus ya Arsyad. Berkat baca postingan ini juga aku tau bentuk celana sunat seperti apa. TFS ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe aku juga bbaru tau mba ada celana sunat. Alhamdulillah terbantu banget pake celana sunat itu

      Delete
  3. Temen saya ada yang Anak laki2nya di sirkumsisi ini, sama2 masih kecil juga. Sebabnya karena saluran kencing nya tertutup. Alhamdulillah Arsyad sudah kembali aktif yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah mba sudah kembali aktif

      Delete
  4. Memang tidak ada jalan lain ya bunda untuk pimosis ini? Soalnya kasihan sebenarnya kalau masih kecil disunat. Konon katanya penis saat dewasa akan pendek karena pertumbuhannya tertarik. Kebetulan anak saya disunat saat umur 4th, dan keluarga besar saya juga rata2 di 5th. Sekarang anak saya sudah SMA, dan keluarga kami mengajarkan tentang sex education dari dia SMP mengenai penyakit berbahaya kalau main wanita, dll. Jadi kami terbuka mengenai ini, anak saya bilang kalau panjang penisnya hanya 8cm saat ereksi, padahal secara genetik seharusnya penisnya bisa sepanjang 16cm seperti ayahnya. Saat saya tanya kepada saudara2 saya, ternyata anak yang disunat saat balita penisnya pendek2, dan yang disunat saat SMP malah panjang.

    Biar bagaimanapun saya ingin anak saya dapat membahagiakan istrinya kelak, begitupun sebaliknya.

    ReplyDelete
  5. wahh Arsyad hebat. InsyaAllah makin sehat ya. Kalau Arsyad udah bisa pipis sendiri ya mbak? hihi kalau Zayd belum bisa pipis sendiri, jadinya pake diapers pascasunat, dan itu dia solusi dari dokternya pakai pampers 1 ukuran lebih besar dari yang biasa dipake. Alhamdulillah memang sembuhnya cepat.

    Anyway salam kenal yaaa

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature