MASTITIS YANG BERBUAH MANIS


Agustus menjadi pekan ASI dunia dan untuk itu saya mau sharing nih pengalaman tentang perjuangan memberikan ASI ke Arsyad. Ya berbicara mengenai ASI pasti penuh dengan perasaan nano-nano, ketika hamil Arsyad segala cara saya tempuh agar bisa memberikan ASI eksklusif untuknya. Membeli berbagai buku,mengumpulkan berbagai informasi mengenai ASI, mengikuti berbagai seminar seputar ASI dan manajemen ASI, sampai pada mendoktrin suami agar ia memiliki visi dan misi yang sama yaitu mendukung saya secara penuh memberikan ASI eksklusif kepada Arsyad.

Jalannya tak seindah yang saya bayangkan
Arsyad lahir pada tanggal 2 Mei 2015 dengan proses kelahiran secara Caesar karena ketika pembukaan 8 ketuban pecah dan hampir habis sedangkan posisi Arsyad belum masuk ke jalan lahir. Setelah proses kelahiran Arsyad saya pikir memberikan ASI akan seindah yang saya bayangkan ada koneksi cinta saat menatap sang anak, ada rasa kebahagiaan tersendiri yang muncul dalam diri kita sebagai IBU baru, tapi tidak buat saya. Sehari pasca post partum, ASI saya belum keluar dan saya dengan keras kepala tetap ingin memberikan ASI kepada Arsyad sampai pada titik saya stress karena hari selanjutnya juga belum keluar dan stress saya diperparah datang dari dalam keluarga saya sendiri, orang tua saya tak tega melihat cucunya hanya meraba-raba area puting saya dan tercetuslah untuk memberikan susu formula pada Arsyad. Alhamdulillah dihari selanjutnya ASI keluar dan proses menyusui berjalan dengan lancar.

Satu Bulan Berlalu
Setelah satu bulan usia Arsyad tak ada penambahan berat badan yang signifikan, Arsyad terlihat tidak tumbuh berkembang, beratnya di bawah chart berat badan anak laki-laki diusianya hati ibu mana yang tak sedih. Akhirnya pada bulan ini masuklah pada masa growth spurt. Ia tak berhenti-hentinya menyusui, tak mau lepas dari payudara saya. Tak sampai sejam menyusu lagi, ditaruh di kasur menangis, menyusuu terus tak berhenti-henti hingga puting saya lecet dan berakhir robek.
Ketika puting saya lecet dan robek, momen menyusui Arsyad jadi sangat menyeramkan buat saya. Sakiit sekali rasanya, setiap kali jam menyusui datang hanya ketakutan yang saya dapat dan saya hanya bisa berteriak. Akhirnya masuklah saya pada masa baby blues. Ya saya tak mau menyusui Arsyad. Sampai pada titik saya dan suami menyadari ada yang sesuatu yang salah.
Arsyad ketika usia 2 bulan
Latch On, Tongue Tie, dan Mastitis
Akhirnya kami memutuskan untuk menemui konselor laktasi di RS Hermina Bekasi Barat. Kami bertemu dengan Dr. Sylvia Haryeny, beliau sangat komunikatif dan memang bertemu dengan beliau menjadi obat penenang untuk diri saya. Ternyata akar permasalahannya ada di pelekatan (latch on) atau posisi menyusui saya yang belum benar antara saya dan Arsyad. Dokter Sylvi mengarahkan saya dan Arsyad bagaimana posisi pelekatan menyusui yang baik dan benar saat duduk sampai pada posisi tidur, menurut beliau posisi pelekatan yang baik diantaranya :
  1. Sebagian besar aerola masuk ke dalam mulut bayi, hanya bagian saja yang masih terlihat
  2. Mulut terbuka lebar
  3. Bibir bawah bayi mengarah keluar (monyong)
  4. Ibu tidak merasa nyeri pada area puting
Pantas saja puting saya lecet dan berakhir robek, padahal saya sudah merasa posisi pelekatan ke Arsyad baik-baik saja. Dokter Sylvi berpesan 2 minggu setelah dari kedatangan saya ini untuk bertemu kembali dengan beliau dan melihat perkembangan berat badan Arsyad. Dokter juga menyarankan untuk mengistirahatkan atau mengurangi frekuensi menyusui pada area puting yang robek, yang biasanya frekuensi menyusui 7 kali menjadi 4 sampai 5 kali. Dokter juga meresepkan salep untuk puting saya yang robek tersebut.

Selang 2 minggu pasca kedatangan saya, ternyata bobot Arsyad hanya bertambah 100gr dan parahnya puting saya tak menunjukan kesembuhan apapun malah saya terkena demam, area payudara tiba-tiba mengeras, dan super sakit sekali. Dokter Sylvi langsung memerika payudara saya dan posisi lidah Arsyad. Yak saya terserang mastitis atau radang payudara. Menurut dokter mastitis ini terjadi karena adanya bakteri yang masuk kedalam puting saya yang terluka sehingga infeksi dan membuat badan saya menjadi demam.

Dokter meresepkan antibiotik dan menyarankan untuk tetap menggunakan salep yang ia resepkan tempo hari. Saya awalnya agak khawatir ketika dokter meresepkan antibiotik tapi setelah beliau menerangkan kalau apa yang ia resepkan aman untuk saya dan Arsyad saya sedikit lega, yang ada dipikiran saya waktu itu ya saya ingin mendapatkan proses menyusui yang lancar dan indah.

Selain obat-obatan tersebut dokter Sylvi juga menyarankan kepada saya untuk melakukan istirahat yang cukup, terus memberikan ASI kepada Arsyad dengan menggunakan payudara yang terkena mastitis karena proses pemberian ASI tersebut mempercepat penyembuhan, melakukan kompres payudara dengan air hangat sebelum menyusui untuk mengurangi rasa sakit pada area payudara, dan melakukan pijat payudara. Beruntungnya mastitis ini cepat tertangani jadi tidak sampai ke tahap abses payudara.

Setelah selesai menerangkan kepada saya mengenai mastitis ini dokter Sylvi memeriksa kondisi lidah Arsyad dan ternyata Arsyad tongue tie. Dokter Sylvi menyarankan untuk tindakan insisi agar Arsyad dapat menyusui dengan leluasa tak terhalang oleh gerakan lidahnya. Tongue tie ini yang mengakibatkan Arsyad nenen hanya sekedar mentil dan ASI yang masuk kedalam tubuhnya SEDIKIT. Pantas saja kalau nenen bisa berjam-jam dan ga ada puasnya pikir saya. Dokter memberikan waktu kepada kami untuk berdiskusi apakah tindakan insisi ini mau hari itu juga dilakukan atau kami sebagai orang tua pikir-pikir dulu. Ayah Aik langsung mengiyakannya, saya juga sempat bertanya pada dokter apakah ada efek samping dari tindakan insisi tersebut dan dokter Sylvi meyakinkan kami kalau semua ini akan baik-baik saja. Insisipun dimulai “cekris sedikit ya sayaang...” dan mulut Arsyad langsung penuh dengan darah, dokter langsung menyerahkan Arsyad kepada saya untuk disusui agar darahnya berhenti. Darahpun berangsur menghilang dan berpindah memenuhi payudara saya. Yang saya rasakan setelah tindakan insisi ini memang gerakan lidahnya berubah, sama sekali saya tidak merasakan nyeri atau sakit saat menyusuinya. Selang dua minggu dari proses insisi tersebut alhamdulillah mastitis saya sembuh. Puting yang robek kembali dalam keadaan seperti semula J

Membangun support system demi kelancaran ASI

Setelah drama panjang pelekatan, mastitis, dan tongue tie yang saya alami banyak sekali pelajaran yang saya dapat terutama belajar bagaimana agar orang-orang disekitar saya turut mendukung apa yang menjadi impian saya yaitu memberikan ASI eksklusif untuk Arsyad. Ternyata dukungan tak hanya cukup dari suami saja, pasca melahirkan saya tinggal bersama orang tua saya. Awalnya seperti yang saya sudah ceritakan di atas, eyangnya Arsyad (mama saya) menganjurkan untuk memberikan susu formula sebagai pengganti selama mastitis saya belum sembuh. Mengapa ia begitu? Karena mama saya tak tega melihat Arsyad terus menerus menangis dan ia juga tak tega melihat saya menjerit kesakitan ketika menyusui Arsyad. Apakah pertahanan saya runtuh begitu saja? TIDAK! Saya tetap dengan pendirian saya dan keyakinan saya bahwa ASI saya cukup untuk memenuhi kebutuhan Arsyad. Awalnya cibiran datang, saya dibilang egois karena mempertahankan ego saya tersebut, dan tercetus opsi donor ASI dari saya namun hal itu tak juga mendapat dukungan. Akhirnya saya memutuskan ketika bolak balik harus menemui dokter Sylvi saya membawa serta mama saya agar ia mendapat pemahaman yang cukup.

Mitos-mitos seputar ASIpun diterangkan oleh dr.Sylvi bahwa itu tidak benar seperti agar saya tidak minum air dingin karena nanti ASInya akan dingin dan juga mitos-mitos lainnya. Dengan seringnya saya melibatkan mama saya ketika berkunjung ke dr.Sylvi pada akhirnya membuat mama saya sadar dan mendukung saya 100%. Bahkan ia mulai men-defrost freezer ASI saya agar tertata dengan baik dan saat ini terkadang kalau ada tetangga yang bertanya mengenai ASI beliau maju menjadi nomer satu untuk menerangkannya.

Ya dukungan tak hanya cukup dari suami saja, tapi orang-orang disekeliling kita juga perlu agar nantinya sebagai Ibu yang memberi ASI tak melulu merasakan tekanan batin melainkan kepuasan dan kebahagiaan batin. Kalau ibu happy pasti ASI mengalir deras because happy mom raise happy kids! Di usia Arsyad sekarang yang menginjak 1 tahun 2 bulan saya sangat bersyukur bahwa saat ini masih diberikan kenikmatan untuk menyusuinya dan terus berdoa agar terus dicukupkan dan dikuatkan hatinya ketika proses menyapih nanti. Bagi saya ini adalah pengalaman mastitis yang berbuah manis, dengan ini saya bisa merasakan dukungan yang luar biasa dari sekeliling saya.

*tulisan ini diikutsertakan dalam Give away ASI dan segala cerita tentangnya*

 terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!
4 comments on "MASTITIS YANG BERBUAH MANIS"
  1. semangatttttnya ngasii :*
    insyallah cuuuukup asi buat aanak :*

    ReplyDelete
  2. Senang banget semakin banyak gerakan dan kegiatan pendukung untuk menggiatkan ASI :)

    ReplyDelete
  3. Anakku loh sampe 3 tahun masih ngasi T_T susah banget disapihnya,

    ReplyDelete
  4. Dukungan orang terdekat turut menjadi pintu utama kesuksesan ASI ya mba... keluarga yang medukung membuat ibu lebih siap ngASI... terimakasih telah berbagi informasi tentang ASI mba...

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature