URGENT : quarter life crisis! part 2

First of all..happy mother day mam… Mother= 24 hours job, no pay, no day off, seldom appreciated, n impossible to resign. That’s why I love u more and more.. mwaaaahhh :*
Again and again postingan kali ini teteuup ada hubungannya sama quarter life crisis..- -“
Entah mengapa pikiran ini lagi menerawang ke percakapan antara saya, mama, dan mamah aa( kakak dari papa). Tepat sebulan yang lalu kami sekeluarga berkunjung ke kampung halaman papa, lebih tepatnya untuk menengok adik dari papa atau om saya yang terkena stroke. Alhamdulillah sekali stroke yang diderita papa tidak separah om saya, papa hanya stroke ringan, tubuhnya masih bias digerakan dan beraktifitas hanya saja memorinya yg agak sedikit terganggu akibat penyempitan pembuluh darah, kata dokter harus sering diterapi, terapi bisa dilakukan oleh keluarga sendiri dari dukungan keluarga dan ingatan ingatan masa lalunya bersama keluarga besar dan orang-orang disekitarnya.
Alhamdulillah kondisi papa sekarang tepat di D-1 hari ulang tahunnya sehat walafiat dan perkembangan kesehatannya semakin membaik. Oke back to the point.. percakapan yang dilakukan sebulan lalu sebenarnya memang agak eeeh bukan agak lagi sih ya jadi bikin galau total dalam sebulan terakhir ini. Percakapan di dapur mah aa sebulan yang lalu, kata mamah aa waktu keluar dari rumah sakit papa bilang intinya siii kalau saya sudah menikah dengan si Mr. A, pas banget tadi papa salaman papa bilang “maaf Mr.A ga bias dateng lagi sibuk” agak kaget sebenernya, kenapa ingatan papa sampai kesitu yaaa… dari pernyataan tadi diambillah kesimpulan oleh si mamah aa dan mama kalau saya sebaiknya memikirkan masa depan hubungan saya dan pasangan. Saya tau mama selalu ditanya entah basa-basi atau serius kapan akan menikahkan anaknya oleh keluarga besarnya dan mama juga tau bahwa saya baru akan memutuskan menikah paling cepat di usia 26 tahun dan saya berharap mama dan keluarga besar menghormati keputusan saya. Mama tentu saja menyayangkan, tidak marah tentu saja karena percakapan kami ini santai dan dipenuhi dengan selingan tawa, tapi jelas sekali wajah mama kemudian menjadi serius dan sedikit tidak terima, ia berpesan bahwa usia 25 tahun sewajarnya pernikahan itu sudah terjadi karena berbagai pertimbangan. Dan saya yang keras kepala tetap menganggap omongan mama, mamah aa dan pembicaraan kami hanya angin lalu. Toh, saya masih belum siap bahkan tidak terpikirkan kearah sana, saya ingin kuliah dulu, mengejar mimpi dan karir saya.
Saya tau maksud dan tujuan mereka membuka percakapan ini untuk apa dan karena peritmbangan apa, pertimbangan yang pertama masalah kesehatan papa.
Sejujurnya jika memang Allah mengijinkan untuk secepatnya saya pun insya Allah telah siap, tapi semua butuh proses dan kematangan. Kematangan dari segi mental, dan financial. Sejujurnya saya ingin membahagiakan mama dan papa, sebelum saya benar-benar ditinggalkan. Sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan dan takutkan lagi sejak saya tumbuh besar. Membahagiakan disini mungkin lebih dari sekedar hari pernikahan yang dihadiri mama, tapi lebih jauh lagi, mungkin seorang cucu tapi saya lebih yakin bahwa mama ingin melihat saya tumbuh membangun keluarga dan memastikan saya berbahagia dengan kehidupan saya sendiri, kehidupan yang ia lahirkan dan ia didik sejak kecil, hingga suatu ketika ketika ia menutup mata, ia dapat pergi dengan tenang dan bahagia.
Mulai detik ini, tidak ada lagi target “26” dalam otak saya, saya ikhlas menjalani semuanya sesuai kehendak Allah, saya hanya ingin membuat orang yang sangat saya cintai dan saya yakin mencintai saya pula, bahagia sebelum saya benar-benar terlambat. Mama papa..aku tau apa yang kalian inginkan, aku juga mau mewujudkan semuanya..

Ayu sayang Mama Papa :*

Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Post Signature

Post Signature