Slide Show

MEDI-CALL, LAYANAN KESEHATAN DALAM GENGGAMAN


Tepat setahun yang lalu, Arsyad pernah tersiram air panas lebih tepatnya air dari dispenser. Saya panik bukan kepalang ditambah lagi kondisinya saat itu sudah jam 8 malam. Tanpa berlama-lama saya langsung bawa dia ke UGD rumah sakit terdekat, tapi lagi-lagi kami harus berhadapan dengan kemacetan. Selama perjalanan saya berandai-andai, “andai saja ada layanan home visit dokter yang gampang diakses, gak ribet perlu buat janji, dan gak perlu kena macet”.

Tepat di 18 Februari 2017 kemarin di Hotel Puri Denpasar, Jakarta , khayalan saya terjawab sudah. Sekarang saya bisa menikmati layanan kesehatan home visit dokter dengan mudah melalui aplikasi Medi-Call seperti memesan ojek online. Apa sih aplikasi Medi-call ini? Medi-call adalah aplikasi pemesanan layanan kesehatan melalui smartphone berbasis GPS yang telah sukses beroperasi di Bali dan digunakan oleh warga lokal dan turis asing. Jadi saat ini aplikasi Medi-call mengembangkan sayap layanan kesehatannya ke wilayah Jakarta.


Di dunia kedokteran, Medi-call merupakan aplikasi pertama di Indonesia yang menyediakan layanan home visit dengan tarif kompetitif. Biasanya yang menikmati layanan home visit dokter dari kalangan mengengah keatas namun melalui aplikasi ini semua bisa mengakses dan menikmati layanan home visit dokter, karena harga yang dipatok standar dan transparan. Yang menjadi parameter penentuan tarif home visit dokter dari biaya konsultasi, tindakan, obat, dan lab.

Bagaimana cara kerja aplikasi Medi-Call?

Melalui aplikasi ini calon pasien tinggal log in dan memilih menu kesehatan yang akan digunakan. Lalu isi data yang diperlukan serta sampaikan keluhan kesehatannya.Kemudian pasien akan mendapatkan biaya panggilan atau tarif berdasarkan jarak dan parameter lainnya. Dokter yang sedang mengaktifkan aplikasi ini dan jarak aksesnya dekat dengan pasien akan mendapatkan notifikasi, selanjutnya dokter akan menghubungi pasien dan mengkonfirmasi beberapa data yang dibutuhkan lalu sampai ke tujuan rumah pasien tersebut.

Tindakan selanjutnya jika setelah memeriksa pasien, dokter akan meresepkan obat. Disini pasien tidak perlu untuk keluar rumah membeli obat karena sang dokter langsung yang akan memesan obat tersebut lewat aplikasi Medi-Call melalui fitur layanan pharmacy. Saat ini Medi-Call terintegrasi dengan Apotek K-24 lewat k-24klik.com maka obat tersebut akan sampai ke tempat tujuan.

Layanan apa saja yang dapat diakses melalui aplikasi Medi-Call ?



Tidak usah ragu menggunakan aplikasi Medi-Call 

Tenang saja ternyata dokter, perawat, tenaga profesional yang tergabung dengan Medi-Call  sudah memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Ijin Praktek (SIP). Seleksi yang dilakukan pihak Medi-call cukup ketat dan review atau testimoni dari pasien nantinya akan menambah nilai plus tenaga profesional yang bergabung di Medi-Call.

Sayangnya saat ini layanan Medi-Call belum menerima asuransi maupun BPJS. Kedepannya akan segera dikembangkan. Pembayaran layanan ini juga baru bisa menggunakan sistem cash dan segera akan diaplikasikan sistem dengan penggunaan kartu debit maupun kartu kredit.

Senang rasanya tahu satu lagi aplikasi layanan kesehatan yang bermanfaat untuk seluruh anggota keluarga. Yuk unduh aplikasinya di Playstore atau kunjungi website Medi-Call.

terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!

#WHENMOMMIESTALK : BALADA SUPPORT SYSTEM BUNDA VS EYANG


“Nanti kalau sudah nikah mama gak mau dititipin anak kamu ya..”

Daaan saya menikah lalu berubahlah “ udah gak usah pake pembantu, sini titipin mama aja! Kamu juga tinggal disini”

JEEENG JEEEENG

Siapa yang punya pengalaman yang sama? Saya sama suami masih tinggal numpang di rumah orangtua. Baik di rumah mertua atau rumah mama saya. Jadi kami masih nomaden, bolak-balik kesana kemari demi jatah dengan cucu dapat terbagi dengan adil.

Suka duka tinggal bersama orangtua itu sungguh luar biasa apalagi masalah pola asuh anak. Lain cerita dengan Silva yang sudah tinggal sendiri dan menggunakan jasa pengasuh. Dia lebih banyak bersebrangan dengan pengasuhnya. Nah saya sama Silva mau kasih sudut pandang yang berbeda kali ini.
Masing-masing orang tua punya cara yang berbeda tentang pola asuh terhadap anaknya, pastinya hal ini untuk kebaikan anak. Nah tinggal bersama orang tua, seringnya ada beberapa hal yang gak sejalan. Biasanya para eyang ini seringkali longgar dalam disiplin dan aturan, lebih tepatnya sih nggak tegaan sama cucunya. Awalnya sempet kepikiran pengen deh resign aja dari kerjaan lalu tagihan cicilan datang dan GAGAL RESIGN. HAHAHAHAHA, papa mertua saya juga menganjurkan saya tetap bekerja, mungkin hal ini agar meminimalisir intrik yang akan terjadi bilamana saya ada di rumah dan tinggal bersama mertua.

Pengalaman yang sudah saya alami ketika Arsyad lari-larian lalu terjatuh, eyangnya sempat mau memukul lantai dengan sigap saya mengcounter dengan mengatakan “mah, gak perlu memukul lantai. Arsyad yang kurang hati-hati.” Nah di lain waktu saya jelaskan kalau hal tersebut mengajarkan anak untuk tidak mengoreksi diri dan menyalahkan keadaan. Responnya? Awalnya denial tapi lama-lama akhirnya saya bisa satu frekuensi sama beliau.

Hal lainnya adalah

JANGAN LARI-LARIAN

JANGAN MANJAT

JANGAN DIBERANTAKIN PANCI EYANG

DAN JANGAN-JANGAN LAINNYA

Atau

AWAS KEJEDOT

AWAS JATOOOH!

AWAS ADA ANJING GALAK *eeeh gak deng yang ini :p

Hal ini bisa memperlambat proses ekplorasi Arsyad tentunya, buat saya selagi hal yang dilakukan Arsyad tidak berbahaya ya silahkan saja. Asal kita yang dewasa ikut mengawasinya saat bermain. Sayapun juga menjelaskan hal ini ke mama saya atau mertua saya. Kalau mertua untuk urusan berantakan is oke sih, rumah bebas mau berantakan kayak apa asal anaknya ya main dalam rumah. Tapi tidak dengan mama saya. Pernah suatu hari mama saya sampai kesal dan saya lihat mulai senewen lihat cucunya kayak gasing lari kesana kemari. Spontan suami saya bilang “ biarin aja mah, nanti mama stress sendiri loh kalau terlalu overprotect seperti itu” makin kesini mama saya ya mencoba semakin woles sama tingkahnya Arsyad.

Saya juga KZL banget kalau melarang dengan menakut-nakuti sesuatu seperti

JANGAN KESANA NANTI DIGIGIT KECOA (PADAHAL KECOANYA GAK ADA) itu kan sama saja mengajarkan anak berbohong dan membatasi keberanian si anak. HEUUU PUHLIS EYANG - -“

Arsyad sekarang lagi fasenya teriak-teriak, marah dengan melempar sesuatu, dan memukul. Duuh nyebelin deh kalau dilihat. Biasanya hal itu terjadi kalau minta sesuatu kayak dia minta main Handphone terus gak saya kasih dan biasanya dia akan teriak-teriak dan melempar barang yang ada disekitarnya. Lalu datanglah pahlawan bertopeng alias eyang/mbah. Dengan gampangnya dikasihlah itu Handphone.

“udah kasih aja, nih syad sebentar aja ya mainnya..”

Lalu dengan muka kemenangan dia menoleh kearah saya. - -“

Apa yang dipelajari si anak?
“bunda gak asik”
“kalau aku mau sesuatu aku lari ke eyang aja..”
“kalau bunda nggak ngebolehin aku, aku teriak aja terus nanti eyang dateng dan ngebolehin”
Disini terlihat anak jadi tidak punya pegangan, bingung karena orang-orang disekitarnya tidak konsisten dengan aturannya. Akibatnya anak tidak bisa kita “kuasai” dan orangtua akhirnya gak punya otoritas untuk mengendalikannya, saya takut jadi tidak bisa mengarahkan ke perilaku positif.

Hal ini gak bisa dibiarkan terus menerus, dalam satu rumah harus punya aturan yang sama, harus satu frekuensi. Maka hal yang perlu dilakukan adalah

  • Satukan Visi dan misi serta konsistensi dengan suami


Konsisten dengan rules yang akan dibuat penting banget. Diskusi dulu kesepakatan bersama apa yang akan dibuat, satukan visi dan misi, serta harus konsisten. Ketika Ibu mengatakan TIDAK, ya ayah juga harus TIDAK. Kalau ga  ya anak jadi bingung dan gak percaya sama kita.
  • Bangun Komunikasi yang Intens dengan para eyang

Komunikasikan dengan para eyang tentang apa yang kita mau. Saya selalu bilang ke mama saya “ma, tolong bantu ya ma supaya Arsyad jadi anak yang baik” yup dengan kata tolong, terima kasih itu sangat berarti banget buat para eyang. Lalu komunikasikan apa yang menjadi “rules” untuk anak-anak kita. Apa yang boleh dan apa yang TIDAK boleh semua harus dikomunikasikan. Beri pengertian pelan-pelan, karena seperti yang kita ketahui umumnya para eyang ini sensitif dan kalau kalimat sakti mandraguna “dulu mama gak begitu, dulu mama begini, dulu mama begitu, dulu..dulu..dan duluuu” kelar syuuudaaah. Coba beri pengertian pelan-pelan kalau kita sudah berkeluarga dan punya aturan sendiri dalam keluarga kita dan kita harap eyang mengerti ini semua. Terus jelasin juga bahwa apa yang akan kita terapkan ke anak kita dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak kita. Sekali lagi eyang lebih sayang cucunya ketimbang anaknya, jadi mereka mengerti kok dengan apa yang kita mau.

  • Libatkan para eyang dan tanyakan pendapatnya

Ketika kita bermain dengan anak, ajak eyang ikut terlibat karena secara harafiah eyang sangat ingin dilibatkan dalam membesarkan cucunya ini. Eyang sayang banget sama cucunya ini melebihi sayang ke anaknya. Jadi libatkan saja, kalau ditengah jalan ada sesuatu yang gak sejalan, diskusikan saat suasana hati sedang happy riang gembira, ingat jangan berdebat di depan anak karena anak akan mencontoh apa yang orangtua lakukan. “mah tadi kayaknya perlu begini deh mah, karena kalau begitu nanti arsyad gak belajar mandiri endebre endebre. Menurut mama gimana?” nah ini jadi bahan diskusi kan? Jadi ditiap diskusi tetep usaha jalan terooos dengan menyelipkan rules yang akan diterapkan.

Intinya sih buat anak lebih percaya kepada orangtua daripada siapapun. Walau pada kenyataanya lebih capek nenangin eyang atau mbahnya daripada nenangin Arsyad. Percaya deh usaha gak akan pernah mengkhianati hasil. Beri contoh kalau kita memang benar-benar konsisten atas apa yang telah kita sepakati bersama. Kalau kata mba Yulia dari keluarga kita penting banget dalam suatu keluarga punya kesepakatan bersama, kalau perlu dibuat secara tertulis (next akan saya bahas deh masalah ini).

Overall dengan segala kekurangan dan kelebihan para eyang ini bisa jadi bahan intropeksi diri saya kedepannya. Nanti kalau anak-anak sudah berumah tangga saya masih mau terus belajar parenting agar saya bisa jadi teman diskusi yang kece dan selalu pasti ada hal yang perlu disyukuri karena para eyang mendukung ASI eksklusif saya dan MPASI yang tepat pada waktunya.

LAFYUUUUU MAMS AMAH APAH :*


 terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!

KAMPANYE #IWEARMOTHERCARE DAN KOLEKSI TERBARU DARI MOTHERCARE INDONESIA


Sejak jadi ibu kegiatan yang paling menyenangkan adalah jadi personal stylistnya Arsyad.Ternyata punya anak laki-laki juga bisa loh kita dandanin tapi tetap loh yang saya utamakan kenyamanan dan karakter dia dalam berpakaian. Selain itu kualitas produk dari pakaian yang kita pilih juga harus diperhatikan. Ada salah satu store yang setiap kali ke mall pasti selalu saya datangi. Yup Mothercare. Sejak hamil saya sering banget bolak-balik ke store ini. Saya suka banget sama sleepsuitnya Mothercare, gak hanya itu saja baju-baju koleksinya juga menggemaskan, dan yang paling saya senang bahannya awet plus tidak gampang melar.

Kenapa memilih Mothercare? Ada beberapa poin yang menjadi pertimbangan saya ketika memilih Mothercare, diantaranya

  • No label pada bagian kerah

Arsyad kulitnya memang agak sensitif dan rasanya kalau untuk pakaian anak-anak apalagi bayi, pemasangan label pada bagian kerah cukup mengganggu. Biasanya Arsyad suka gatal.

  • Nikel Free

Kancing-kancing baju keluaran Mothercare ini aman, bebas dari penggunaan bahan nikel dan zipper tidak berkarat, serta adanya pelindung zipper untuk mencegah terjadinya gesekan antara zipper dengan kulit.
  •  Interlock Kit

Produk keluaran Mother care sudah memiliki teknologi Interlock kit, jadi ketika baju akan kembali ke bentuk semula setelah dicuci selain itu tidak membuat warna baju menjadi dekil.

  • Pilihan warna dan motif yang variatif

Pilihan warna baju-baju Mothercare sangat variatif dan saya senang karena membuat kulit Arsyad terlihat bersih. Ditambah lagi motifnya juga fun banget untuk anak-anak.

Berbelanja di Mothercare memang merogoh kocek yang lumayan buat saya tapi saya bisa mensiasatinya dengan momen sale akhir tahun. Ya sekali lagi “ada harga ada rupa” karena Mothercare ini memberikan kulitas yang terbaik mulai dari bahan sampe kancing pada baju dengan memilih material yang aman untuk anak-anak.

Anyway rabu lalu saya berkesempatan untuk hadir memenuhi undangan dari Mothercare dan Kumpulan Emak Blogger (KEB). Pada acara kemarin Mothercare Indonesia meluncurkan kampanye #iwearmothercare yang diawali dengan perkenalan dua koleksi terbarunya, yaitu Urban Farm dan Western Pop di Palalada, Grand Indonesia. Kampanye #iwearmothercare ini berlangsung sepanjang tahun  2017. Koleksi Urban Farm diperuntukkan anak suaia 0 – 24 bulan dan Western Pop diperuntukkan anak usia 2 – 10 tahun.

Koleksi Urban Farm

Koleksi Western Pop

Koleksi Western pop

Selain itu kemarin ada sesi mix and match dari fashion stylist yang sudah gak asing lagi, yaitu Bimo Permadi. Bimo berbagi pengetahuan seputar bagaimana orang tua dapat mix and match baju anaknya sehingga terlihat fashionable. Hadir dalam acara tersebut Tanya Larasati, baby Moonela, dan Nindy parasady sebagai endorser Mothercare Indonesia. Mereka juga sharing pengalaman selama menggunakan produk-produk Mothercare untuk buah hatinya.



Oh ya Mothercare sedang ada kontes foto melalui kampanye #iwearmothercare di sosial media Instagram. Kampanye ini mengajak para orangtua untuk menjadi personal stylist anaknya dan menunjukkan hasil styling anaknya di Instagram dengan hashtag #iwearmothercare. Periode kontes 10 – 16 Februari 2016. Hadiahnya voucher belanja di Mothercare loh! Yuuuk ikutan!

terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!

PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL DARI FILM “BAD MOMS”

pic from google.com

Setelah beberapa minggu yang lalu saya melewati hari-hari yang cukup panjang dan berat, saya mengajukan proposal untuk me time sama pak suami. Dua hari setelah Arsyad pulang dari rumah sakit saya akhirnya ke SALON. SUNGGUH BAHAGIA. Awalnya niat potong rambut dan maskeran eeh lalu merembet kemana-mana. Pulang dari salon saya masih ingin “sendiri” tidak diganggu Arsyad dulu. Saya titipkan Arsyad sebentar ke eyangnya. Hal yang saya lakukan adalah menonton film hasil download kemarin salah satunya film BAD MOMs.

Film yang saya tonton sebenarnya film lama tapi sungguh saya baru tahu film ini dari obrolan di grup WA geng mama. BAD MOMS, sebuah film komedi Hollywood yang rilis di tahun 2016 disutradarai oleh Jon Lucas dan Scot Moore (The Hangover juga salah satu karya mereka). Mereka berdua sekaligus merangkap sebagai penulis skenarionya. Kebayang gak sih begitu liat trailernya ini film ibu-ibu banget tapi yang nulis dari sudut pandang dua orang laki-laki.  Film ini dibintangi oleh bintang Hollywood papan atas diantaranya Mila Kunis (Amy), Kristen Bell (Kiki), Kathryn Hahn (Carla), Christina Appllegate (Gwendolyn), Emjay Anthony (Dylan).

pic from google.com

Sebenarnya isi dari film ini memang kejadian sehari-hari yang dialami oleh para Ibu. Sosok Amy (Mila Kunis) seorang wanita yang berusia 32 tahun, ibu dari dua anak, seorang ibu bekerja yang mencoba untuk menyeimbangkan kehidupan dengan keluarganya. Mencoba menjadi seorang good mom dengan segudang aktifitasnya. Ia menikah di usia yang masih sangat muda 20 tahun. Kalau saya berkaca kedalam diri saya, sosok Amy mengingatkan pada diri saya sendiri ketika baru menyandang status “ibu”. Mencoba tampil sempurna, menjadi good mom untuk keluarganya, menyampingkan segala ke “ego” an untuk diri sendiri.

Amy melakukan semua pekerjaan rumah sendiri, mulai dari menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya hingga mengerjakan tugas sekolah anaknya, mengantar-jemput anaknya ke sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, mengurusi anjing peliharaanya, belanja ke supermarket. Suaminya seperti anak ketiganya, lebih sering santai di rumah dan sama sekali tidak membantu Amy (thanks God suami saya tidak seperrti itu). Dengan segala kesibukannya Amy kerap kali terlambat tiba di kantor. Amy bekerja di perusahaan kopi yang kekinian, karirnya cemerlang. Semua orangtua di sekolah anaknya menganggap Amy sosok ibu yang sempurna.

Sialnya Amy mendapati suaminya selingkuh dengan perempuan lain lewat dunia maya, suaminya melakukan perbuatan yang sangat tidak etis (sex online), sudah berjalan selama 10 bulan dan Amy memergokinya. Suami Amy merasa terlupakan dan beralasan karena Amy terlalu sibuk dengan pekerjaan dan anak-anaknya sehingga tak ada lagi waktu untuknya (WTF!). Amy stress dan frustasi lalu ia bertemu dengan Kiki dan Carla.

Kiki (Kristen Bell) seorang ibu dengan banyak anak. Suaminya terlalu berpikiran otoriter dan tidak mau ikut turun tangan membantu menjaga anak-anaknya. Di rumahnya, Kiki layaknya seorang karyawan dibandingkan seorang istri, hal ini membuat Kiki tidak punya banyak waktu luang untuk dirinya sendiri. Ia sampai berpikir untuk melukai dirinya sendiri sebagai jalan keluar dengan tertabrak mobil sehingga ia dirawat di rumah sakit, dirawat suster, dan bisa menonton tv sepuasnya.

Lain cerita dengan Carla (Kathryn Hahn) seorang single mom yang men-cap dirinya sebagai bad mom. Ia tak pernah hadir dalam pertandingan sekolah anaknya, selalu menggoda setiap pria yang mengantarkan anaknya ke sekolah, dan sering mabuk. Ia mempunyai pemikiran “i am a mom and still sexy” yang membuat iri Ibu-ibu lainnya. Mereka bertemu dan akhirnya menjalin persahabatan karena mempunyai nasib yang sama dan mereka memutuskan untuk keluar dari zonanya mereka. Pergi hangout bertiga, menonton film di bioskop, party, dan melakukan hal-hal yang “gila” sampai mereka bertiga melupakan kewajiban dan tanggung jawab mereka sebagai seorang Ibu.

Di kubu yang lain ada sosok ibu yang sempurna, ketua komite sekolah yang bernama Gwendolyn (Christina Apllegate). Sosok ibu sosialita yang memiliki kekayaan yang luar biasa, cantik, dan tampil menjadi sosok ibu yang sempurna which is sukses, suami kaya raya,  anaknya berprestasi.

Disinilah konflik terjadi. Amy dan teman-temannya sudah muak dengan segala peraturan yang Gwendolyn terapkan kepada semua anak murid. Amy mengajukan diri untuk menjadi ketua komite menyaingi Gwendolyn. Hal ini malah memperburuk keadaan, Gwendolyn membuat Jane anak perempuan amy dikeluarkan dari tim sepak bola sekolahnya dan ia difitnah membawa narkoba, hal ini dilakukan Gwendolyn semata-mata untuk menurunkan pamor Amy.

Kalau saya ceritain endingnya gimana nanti malah jadi spoiler ya sis, mending yang belum nonton coba ditonton filmnya. Memang sih ada beberapa adegan yang diluar dari norma yang kita anut. Ngeliat ibu-ibu mabuk, party-party bak anak remaja. Tapi adegan-adegan ini menurut saya menggambarkan “pemberontakan” seorang ibu dan melalui film ini tentunya kita harus lebih menghargai peran dan pekerjaan seorang Ibu. Pelajaran yang lain yang bisa saya ambil dari film ini adalah

Istrimu bukan pembantumu

Ini nih ditujukan untuk suami Kiki. Dia mempunyai pikiran yang sangat otoriter, mau memiliki banyak anak tapi tidak mau membantu Kiki untuk mengurusnya. Menempatkan urusan domestik semata hanya urusan ibu, bukan ayah. Semua Kiki yang menghandle sendiri sampai-sampai Kiki mempunyai pikiran yang tidak waras ingin mencelakakan dirinya dengan menabrakan mobilnya agar ia masuk rumah sakit, bisa dirawat suster, dan menonton TV sepuasnya.

Ibu Juga Butuh Apresiasi

Fitrahnya manusia “mendapat pujian” itu salah satu kebutuhan diri. Ya nggak sih? Nah disini pelajaran yang bisa diambil adalah sudahkah pasangan suami istri saling memberikan apresiasi atas apa yang istri atau suami sudah kerjakan. Memuji istrinya cantik misalnya atau memuji suaminya tampan. Mengucapkan terima kasih karena telah seharian mencari nafkah untuk keluarga, mengucapkan terima kasih karena seharian telah mengurus anak-anak di rumah. Menghabiskan masakan yang Ibu masak atau sekedar memuji “masakan ibu enak”. Sudahkah dilakukan? Simpel tapi maknanya dalem banget untuk seluruh anggota keluarga.

Ibu Butuh Me Time

BACA JUGA : SAYA BUTUH ME TIME

Me time bukan berarti mengesampingkan kodrat kita sebagai seorang Ibu. Me time penting untuk jiwa yang lebih waras setelah berjibaku dengan segala urusan rumah tangga. Me time tiap ibu beda-beda. Ada yang ke salon, nonton dvd, shopping. Silahkan dilakukan!

Menyeimbangkan segala peran, melihat segala prioritas dan mengorganisirnya sehingga semuanya bisa diperhatikan, gak Cuma anak dan suami tapi juga diri sendiri. YOU DESERVE TO BE HAPPY!

Ibu (bukan) Makhluk Yang Sempurna

mothers need to be told that it is okay to be selfish - Anonymous
Kadang kita ingin tampil sempurna, bukan untuk anak-anak terkadang sikap kita seperti itu ada hanya untuk mendapat “pengakuan” dari orang-orang di luar support system kita, karena sebenarnya nggak ada titel “good mom” ataupun “bad mom”, yang ada ketika memutuskan untuk menjadi ibu ya just give up being one.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat menjadi Ibu itu pasti ada namanya juga proses belajar untuk menjadi orangtua dan gak ada pelajaran sekolah untuk jadi ibu yang baik seperti apa. Lebih fleksibel aja. Saya jadi inget pertama kali menyandang status Ibu, saya OCD banget. Rumah harus rapi, makan makanan homemade, semua saya kerjakan sendiri. Hasilnya? Saya merasa kurang bahagia, saya butuh orang lain agar saya bisa mempunyai bonding ke anak dan suami yang kuat dan sekarang saya mencoba lebih fleksibel. Capek pulang kerja terus saya gak masak ya tinggal beli aja. Merasa bersalah? Awalnya IYA, tapi sekarang let it go aja. Toh anak dan suami lebih saya perhatikan dan saya jauh lebih happy. :)))))

Jadi jangan sekali-sekali meremehkan peran istri dan berbagi tugas itu penting dengan suami.

Yuk buibu me time sambil nonton film ini!

terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!

JODOHKU DI PUTIH ABU-ABU


Minggu ini Silva mengajak saya untuk mengenang masa lalu, tenaaang bukan mengenang mantan kok tapi mengenang masa-masa saat pertama kali ketemu sama suami dan akhirnya memutuskan untuk menikah.

BACA PUNYA SILVA

Saya tumbuh menjadi remaja pada umumnya. Tumbuh juga dengan perjalanan cinta monyet. Saat menduduki bangku SMA saya mulai mengenal suami saya. Kami berbeda sekolah namun salah satu teman saya adalah pacarnya teman suami saya. (bingung gak?) :p

Pertama kali kami bertemu itu di Citos, dulu jaman SMA ya mall itu termasuk mall paling hits di Jakarta. Selepas pertemuan itu jadi semakin intens untuk sms dan telepon, tapi sayang gak berlangsung lama. Dia ternyata sudah jadian sama perempuan lain. Lalu menghilang gak ada kabar. Begitu hubungannya mau putus dia balik lagi sms-an dan telepon saya. Sampai mengalirlah hubungan tanpa status. Sial mau-mau aja ya saya digantungin. - -“

Selepas saya naik kelas 3 SMA kami sama sekali hilang kontak, waktu itu handphone saya hilang di angkot ketika perjalanan ke sekolah dan memang kami benar-benar gak tahu kabar satu sama lain. Lalu muncullah friendster, dari situ kami saling bertukar kabar namun sialnya lagi-lagi saat itu dia sedang menjadi milik orang lain.

Sampai saya duduk di bangku kuliah dan naksir sama kaka senior, saya sudah gak tahu kabar si pak Arif kemana. Sebagai leo sejati yang gak neko-neko kalau untuk urusan hati akhirnya saya memilih tetap sendiri dan pada akhirnya siang-siang kalau gak salah ingat ada sms yang masuk menanyakan kabar saya. Selepas itu akhirnya kami mulai intens lagi sms dan telpon dan akhirnya dia mulai PDKT lagi ke saya. Yaa biasalah PDKT dedek-dedek gemes pada umumnya, main ke kampus. Padahal kampus dia di Depok dan kampus saya di Rawamangun. *cinta memang berat diongkos :p

Saya lupa tepatnya tanggal berapa dia ngajakin saya ke Ancol dan disitu dia nembak saya. Langsung dijawab? Gak doong tarik ulur dulu, gengsi dong masa langsung dijawab. Akhirnya 8 November 2008 kami resmi jadian.

Pacaran kurang lebih sampai 6 tahun dengan segala drama putus-nyambung. Tahun 2009 tahun kelulusan saya menempuh D3 di salah satu universitas negri di Rawamangun. Saat itu saya memutuskan untuk mengenalkannya pada orangtua saya tepat dihari wisuda saya. Momen yang pas menurut saya, lagipula mama saya sudah maksa pengen kenal siapa pacar saya saat itu. Akhirnya kami satu mobil menuju JCC. Saat foto wisuda berdua satu doa saya dalam hati “ ya allah mudah-mudahan jodoh saya kalau belum berjodoh kesian sama fotonya” hahahahahaha :))).


Di tahun 2012 suami sayapun melakukan hal yang sama. Mengajak saya bertemu dengan keluarga besarnya saat wisuda kelulusannya.  Mungkin juga di tahun ke 3 kami menjalankan hubungan dia sudah mantap jiwa sama saya. GEE EEER banget sis :p


Untuk masuk kedalam keluarga besarnya gak mudah bagi saya. Keluarga kami punya budaya yang berbeda meski sama-sama dari tanah jawa. Orangtua saya sedari dulu terbuka untuk masalah cinta-cintaan seperti ini, malah yang saya lihat dulu pacar-pacar kakak saya ya lumayan dekat dengan mama saya. Tapi tidak di keluarganya. Hanya perempuan tertentu yang suami berani kenalkan pada keluarga besarnya karena memang “keras” sekali kalau masalah ini.

Alhamdulillah seiring berjalannya waktu saya bisa diterima dengan baik. Sering datang kalau weekend sambil sesekali membawa buah tangan, mengobrol walau dulu obrolannya masih kikuk dan seperti basa-basi sekali. Tapi saya gak gentar dong untuk terus berjuang.

Kami juga memang bukan pasangan yang menye-menye, dulu waktu dilamar dan diajak nikah saja lagi makan pecel ayam favoritnya dia di dekat rumah saya. - -“

Kami memutuskan menikah di tahun ke 6 kami berpacaran, sebetulnya sih tahun ke-4 kami sudah mengadakan pertemuan keluarga besar, namun selang beberapa bulan alm. Ibu (Ibu kandung dari suami saya) sakit dan meninggal dunia. Akhirnya kami memutuskan setahun pasca kepergian alm.Ibu baru kami melaksanakan segala ritual sebeum pernikahan seperti lamaran dan lainnya. Sedih sekali rasanya pernikahan kami tidak bisa disaksikan oleh alm.Ibu tapi saya beruntung sempat bertemu dan ngobrol dengannya.

8 Juni 2014 kami menikah. Saat itu alhamdulillah saya telah menyelesaikan kuliah saya dengan hasil keringat saya sendiri. Bangga banget rasanya bisa jadi sarjana dengan uang yang saya keluarkan sendiri tentunya support yang suami berikan juga sungguh luar biasa, kebayangkan lagi skripsi sambil ngurus printilan dan tetek bengek pernikahan.

2 Mei 2015 Arsyad lahir.



Umur pernikahan kami memang baru seumur jagung dan yang saya pelajari ternyata ukuran lama pacaran tidak menjamin apakah kita telah benar-benar mengenal pasangan kita. Awal pernikahan kami masih sering bertengkar karena hal-hal sepele. Yang selalu saya ingat adalah

Bahwa sesungguhnya jodohmu adalah cerminan dirimu

Jadi kalau ada ketidaksempurnaan yang datang dari dalam diri suami ya saya harus mengoreksi diri saya juga, mungkin saya juga seperti itu atau ya mungkin saya belum melakukan yang terbaik untuk dia. Selalu ingat wejangan dari mama saya “jangan berharap kamu punya suami yang sama persis seperti keinginanmu. Karena kamu juga gak sama persis dengan maunya.”

Menikah sama-sama saling berbenah diri. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, demi contoh yang baik untuk Arsyad.

Dan baru menyadari ternyata jodoh saya ya bertemu saat di putih abu-abu alias masa SMA, semacam #temantapimenikah eeeh bukan teman sih ttm-an. :p

Kalau kalian gimana cerita ketemu jodohnya?

 *ini harusnya di post kemarin tapi karena saya salah ngejadwalin jadi ke pos hari ini deh :(


terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!

PENGALAMAN OPERASI SIRKUMSISI KARENA FIMOSIS PADA ARSYAD


Sabtu, 28 januari yang lalu saat kami sedang menuju perjalanan ke rumah selepas menjemput eyang dari stasiun Gambir, Arsyad (2yo)  mengeluh sakit pada area penisnya.

A : ndaa atit nda
B : apa yang sakit sayang?
A : nis nda nis *sambil menunjuk ke arah penisnya.

Sontak saya kaget lalu memeriksa kondisi pospaknya ternyata masih kering padahal memang sudah jamnya untuk mengganti pospak, saya tanya sama kakak saya yang waktu itu juga sedang bersama saya dan kebetulan juga dia seorang perawat. Kakak saya bilang “wah ini penisnya bengkak, tuh pipisnya masih disini” sambil menunjuk kearah bawah perutnya Arsyad. Tanpa pikir panjang saya dan ayah Aik langsung memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit Hermina Bekasi.

Selama menunggu ditangani oleh dokter dan mengurus segala administrasinya, Arsyad akhirnya pipis namun yang saya perhatikan ia sedikit mengejan lalu mengeluh sakit. Kondisi IGD RSIA Hermina sabtu sore itu lumayan ramai dan memang kami harus bersabar menunggu antrian penanganan dari dokter.

Dokterpun datang dan saya mencoba menjelaskan keluhan yang dialami Arsyad yang area penisnya sakit dan memang yang saya lihat kondisinya agak bengkak. Lalu dokter menerangkan bahwa yang dialami Arsyad adalah fimosis. Jadi fimosis itu apa? Fimosis ini merupakan kondisi dimana kulup penis melekat pada kepala penis dan menutup lubang penis. Akibatnya jadi susah pipis. Penyebabnya umumnya karena bawaan lahir, namun saat lahir dokter yang menangani Arsyad tidak mengatakan hal apa-apa. Penyebab lainnya bisa karena peradangan yg disebabkan infeksi, trauma benturan. 

Arsyad di IGD
Lalu dokter menangani Arsyad. Membersihkan area penisnya dan ternyata smegmanya cukup banyak. Saya menerangkan kepada dokter rasanya saya sudah cukup bersih untuk membersihkan area genitalnya ketika mandi atau mengganti pospak tapi ternyata itu saja tidak cukup. Smegma itu zat berwarna putih yang terkadang menutupi kepala penis pada penis yang tidak disunat. Jika penis sering dibersihkan, smegma cenderung berwarna bening atau jernih namun saat kondisi smegma menumpuk umumnya bercampur dengan keringat yang diproduksi kulit sehingga warnanya putih.

Setelah itu Arsyad dipasang kateter agar pipisnya bisa keluar. Rasanya melihat anak meronta-ronta karena kesakitan luaaar biasa. Hati saya langsung merasa bersalah, seperti menyalahkan diri sendiri dan langsung melabeli diri ini sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak.

Dokter jaga IGD saat itu langsung mengkonsultasikan masalah yang dialami Arsyad oleh dokter spesialis bedah anak untuk melakukan tindakan apa yang tepat untuk Arsyad. Akhirnya kami diberitahu kalau sebaiknya Arsyad dirawat inap terlebih dahulu, lalu kami menjadwalkan untuk tindakan sirkumsisi atau sunat.

Pukul 10 malam akhirnya kami masuk ruang perawatan, Arsyad diinfus karena ada beberapa obat yang masuk lewat infusan dan urine Arsyad juga diperiksa untuk mengetahui apakah ada infeksi saluran kemih atau tidak. Semalaman saya tidak tidur memikirkan tindakan sirkumsisi yang akan dilalui Arsyad. Memang saya akui sih kekhawatiran saya agak berlebih karena tindakan bius total untuk sirkumsisi esok hari.

Obat anti nyeri diberikan melalui alat ini dan infusan

Malamnya Arsyad tidur lumayan nyenyak, sesekali mencari nenen. Suster menganjurkan agar saat jam 5 pagi saya stop memberikan ASI dan makanan apapun karena Arsyad harus berpuasa selama 6 jam. Rewelnya bukan main pagi harinya minta nenen, saya coba alihkan dengan bermain, lihat video, sampai pada pukul 10 suster datang dan membawa kami ke ruang operasi.

Sepanjang jalan saya hanya bisa menangis, suami mencoba menguatkan dan memberi sugesti yang positif bahwa semua akan baik-baik saja. Duuuh, saya kemarin emang lebay banget parnonya. Saat masuk ruang recovery di kamar operasi saya dan suami masih bisa menemani Arsyad, mengajaknya bercanda sebagai peralihan dari rasa sakit dan agar ia nyaman di ruangan. Jam 11 tiba ternyata dokter yang menangani Arsyad belum datang. Wooooh saya yang super tegang banget mencoba mengalihkan dengan berfoto-foto.


senyum kecut minta nenen



Dokter yang menangani operasi sirkumsisi Arsyad yaitu Dr. Kshetra Rinaldhy.SpB dan Dr.Betty yang menangani anastesi Arsyad (nama lengkapnya saya lupa). Selain itu ada 5 perawat juga. Alhamdulillah susternya baik-baik banget. Mereka mau ngajak Arsyad ngobrol, main, jadi anaknya gak terlalu tegang.

Jam 11.30 akhirnya dokter Kshetra datang, kami mengobrol sebentar lalu dokter pamit untuk mempersiapkan diri. Suster mengintruksikan saya untuk menggendong Arsyad dan masuk ke ruangan operasi. Sepanjang lorong saya menangis dan berusaha ikhlas karena apa yang kita punya di dunia ini sesungguhnya hanya “titipan” dari Allah. Saat saya merebahkan Arsyad di kamar operasi dia menangis sambil ngamuk-ngamuk dan teriak-teriak panggil “ndaa bundaa” saat itu juga dokter memasukan obat bius langsung Arsyad tertidur dan saya dipersilahkan keluar untuk menunggu di ruang recovery atau ruang tunggu keluarga.
 
pembicaraan laki-laki tentang asetnya :p


Proses operasi sirkumsisi alhamdulillah berjalan lancar, selang 45 menit saya dipanggil suster dan saya melihat salah satu suster sedang menggendong Arsyad yang sudah sadar. Hal pertama begitu melihat Arsyad setelah disirkumsisi saya ngilu, karena penisnya tidak dibungkus, lukanya dibiarkan terbuka oleh dokter, kata dokter kalau mau pakai pospak sudah boleh bunda. Tapi lagi-lagi saya menolak dan dokter menyarankan membeli celana sunat sebagai alternatif lainnya atau memasang kasa sebagai hordeng perlindungan. :p

Setelah saya gendong Arsyad lalu minta nenen dan sambil saya menyusui dokter Khsetra menjelaskan perawatan pasca sunat seperti apa. Saya hanya diresepi salep yang harus dioles setiap 2x sehari dan benar-benar membersihkan area penis secara bersih tidak ada sisa salep yang menempel.

Alhamdulillah selang 1 jam kami bisa berkumpul kembali di ruang perawatan. Ohya sebenarnya sore harinya kami sudah diijinkan pulang sama dokter tapi kan udah kena charge hari berikutnya untuk kamar rawat inapnya, sebagai keluarga yang ogah rugi jadi kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. :p

Pas di kamar rawat inap, Arsyad sudah kembali ceria walau sesekali mengeluh perih tapi tenang ada obatnya yaitu nenen! Gak kebayang sih kalau dia sudah saya sapih nanti gimana.  Hari seninnya kami pulang. Biaya yang kami keluarkan kemarin untuk operasi sirkumsisi beserta kamar rawat inap, jasa dokter, pemakaian kamar operasi sebesar Rp 7.500.000 dan alhamdulillah dicover oleh asuransi kantor pak suami karena fimosis ini di atas 1 tahun, kalau dibawah 1 tahun masuknya ke penyakit bawaan lahir jadi tidak dicover deh. Untuk yang mau menggunakan BPJS juga bisa sih hanya saja harus mengikuti sesuai alur prosedur dari faskes 1 agar dicover oleh BPJS.

Arsyad pakai celana sunat

Memang sih tindakan sunat atau sirkumsisi ini bukan jalan satu-satunya mengobati fimosis. Pasca Arsyad disirkumsisi banyak teman-teman saya yang japri mempertanyakan kenapa gak diobservasi dulu dan lainnya. Yang saya pikirkan adalah semakin saya menunda tindakan sirkumsisi ini semakin membuat Arsyad sulit pipis yang nantinya akan menimbulkan penyakit lain seperti infeksi saluran kemih. Menurut saya semakin cepat ditangani akan semakin baik.

Dua hari pasca sirkumsisi anaknya sudah aktif lari-lari dan main bola. Alhamdulillah juga seminggu pasca sirkumsisi lukanya sudah mengering dan kemarin kontrol kata dokter Khsetra hasilnya sudah bagus tinggal terus diolesi salep yang diresepkan kemarin. 2 hari pasca sirkumsisi Arsyad juga udah aktif banget lari-lari kesana kemari.

Ada yang punya pengalaman yang sama?

terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!

PAKAI BARANG KW? YAY OR NAY?!


Kamis ini saya sama Silva mau bahas yang ringan-ringan aja karena saya baru saja melewati hari-hari yang cukup berat sis. kalau yang follow akun instagram saya pasti tau kenapa. Kalau yang gak tau cuss atuh follow akun IG saya (@ayuanggarini) :p. Kali ini saya sama Silva mau bahas tentang pakai barang KW. Hayoo siapa yang pernah pakai barang KW? Perempuan mana sih yang gak kepengen punya branded bag macam LV, hermes, Fendi, Celine, Chanel. Saya sih kalau dikasih ya gak nolak :p

BACA PUNYA SILVA

Tapi ada sebagian dari kita kaum perempuan dengan atas nama gengsi ya menghalalkan berbagai cara agar tampil fashionable bahkan saya sering lihat sekarang-sekarang ini beberapa artis papan atas yang mau diendorse pakai barang KW. Sebenernya sih ya sah-sah saja dan itu hak masing-masing. Namun kita harus memperhatikan beberapa hal ketika ingin memakai atau berbelanja barang KW, saya sih sempat kepikiran kalau pakai barang KW berarti saya mendukung pembajakan dong? Terus saya tidak mendukung kreativitas si designer tersebut dong? Kebayang gak sih kalau tulisan kita diplagiat keselnya kayak apa? Nah saya mencoba memposisikan diri seperti itu. Selain itu yaa balik lagi ke teori “ada harga ada rupa”, biasanya barang KW ini ya nggak awet karena kualitasnya kurang bagus berbeda dengan barang asli kalaupun rusak kita pasti punya garansi.

Tidak bisa dipungkiri juga dulu masih jaman kuliah sayapun pernah membeli syenel grade ori di Ambasador kuningan hanya karena ya modelnya lucu. Tapi makin kesini saya sadar kalau ya ngapain pakai barang KW sih toh masih banyak buatan lokal yang gak kalah bagusnya sama branded bag luar sana. Contoh merk lokal yang jadi favorit saya itu abekani, tulisan, kayn, dan zummabags. Ayolah kita cintai ploduk-ploduk Indonesia :)))

Atau cara lain kalau emang pengeeen banget si branded bag yaa cari-cari aja yang preloved atau second. Mending beli barang second tapi asli daripada baru tapi KW kan? Menurut saya itu cara yang lebih terhormat. Kalau memang pengeeen banget branded bag yang baru ya nabung sih jalan satu-satunya, teman saya sampai buka akun reksadana khusus untuk membeli tas impiannya.J

Kalaupun saya nantinya punya uang banyak ya sah-sah aja kan beli tas puluhan juta? toh itu kan juga bisa buat investasi. Inget yaaa kalau saya punya banyak uang dan sudah mampu. Oh well tapi saya pernah menabung untuk satu tas impian saya, begitu uangnya terkumpul terus kayak semacam mikir ulang lagi. Yakin nih uangnya buat beli tas? Eeh alhasil balik lagi deh ke tas lokal seperti tulisan yang akhirnya saya beli, sisanya? malah buat jalan-jalan. Saya sadar sih gaya hidup saya belum sampai kesitu, atau merasa diri belum mampu dengan hidup mengikuti gengsi.

Jadi menurut kalian pakai barang KW itu gimana?

terima kasih yaa sudah mampir di blog saya!

Post Signature

Post Signature